Minggu, 22 Agustus 2010

Kapan Usia yang Tepat untuk Mulai Belajar Piano?

Seorang ibu bertanya kepada seorang guru piano, "Apakah anak saya sudah telat belajar piano?" "Berapa usia anak ibu?" tanya sang guru. "Tujuh tahun." jawab sang ibu. Sang guru menjawab, "Berarti sudah telat belajar delapan tahun."

Illustrasi di atas menggambarkan bagaimana pentingnya belajar musik dari usia yang sangat dini bahkan dari dalam kandungan karena indera pendengaran adalah indra yang paling pertama berkembang. Oleh karena itu, harus terus diberi stimulus agar terus dapat berkembang dengan maksimal. Namun, bayi yang sudah berusia dua atau tiga tahun pun sulit untuk mulai belajar piano apalagi dalam kandungan.

Di Australia, guru piano menerima anak yang mulai belajar pada usia 7 tahun. Kadang kala 6 tahun. Hal itu disebabkan karena pada usia tersebut perkembangan otak anak sudah dapat mengerti simbol (abjad dan not), perkembangan motorik halus sudah terbentuk, dan anak sudah dapat menfokuskan perhatian untuk jangka waktu yang cukup lama.

Namun, tidak dipungkiri bahwa pianis-pianis yang virtuoso memulai pelajaran pada usia yang sangat dini, yakni sekitar tiga atau empat tahun. Lang Lang, mulai belajar piano dari umur tiga tahun dan pada umur lima tahun, ia sudah memenangkan Shenyang Piano Competition. Jadi, jika mulai belajar piano pada usia enam atau tujuh, maka sudah dikatakan terlambat untuk menjadi seorang concert pianist. Pendapat lain berkata bahwa ketika anak sudah dapat meletakkan jari-jarinya, satu jari untuk satu tuts tanpa kesulitan, maka ia sudah dapat mulai belajar piano. Nah, dari sekian banyak pendapat tersebut, manakah yang tepat?

Pembelajaran musik atau piano dibagi dalam dua kelompok yaitu lewat pendidikan formal (seperti di sekolah atau kursus) dan non formal. Jika seorang ibu menyanyi untuk menina-bobokan anaknya, maka pendidikan musik non formal sudah terjadi. Dewasa ini, bayi dalam kandungan pun sudah diperdengarkan musik yang nota bene juga merupakan pendidikan musik non formal.

Untuk mempersiapkan anak untuk menempuh pendidikan musik secara formal maka haruslah melihat kesiapan dari orang tua dan juga anak.

A. Orang tua

1. Apakah orang tua sanggup menyediakan piano (minimal piano digital) untuk anaknya?

Ini penting, karena jika tidak memiliki piano, anak dapat berlatih. Kadang orang tua menyatakan, cukup beli yang seadanya. Jika sang anak akhirnya tidak tertarik untuk belajar lagi, maka kerugian membeli piano yang mahal dapat dikurangi. Hal ini sama sekali tidak disarankan. Mengapa? Karena anak yang baru belajar, guru akan membentuk fondasi yang kokoh untuk mendukung ketrampilan anak bermain piano kelak. Fondasi yang kuat dan kokoh tidak akan terbentuk. Beberapa murid piano jadi malas belajar hanya karena tuts pianonya 'lengket' dan tidak bunyi. Apakah anak akan terus belajar atau tidak, itu tergantung dari kesiapan anak (yang akan dibahas berikutnya) dan kepiawaian gurunya memotivasi anak.

2. Apakah dapat mengalokasikan dana secara regular?
Dalam hal ini, untuk membayar biaya kursus setiap bulan dan jika memiliki piano akustik, sanggup membayar biaya penalaan piano minimal dua kali setahun (baca : Mengapa dan Kapan Piano ditala?)

3. Apakah dapat mengalokasikan waktu?
Jika anak belajar piano, maka orang tua harus meluangkan waktu minimal untuk mengantar jemput anak ke dan dari tempat kursus. Jika berhalangan, orang tua dapat mendelegasikan tugs tersebut pada orang lain yang dapat dipercaya. Selain itu, apakah orang tua sanggup meluangkan waktu untuk menemani anaknya berlatih setiap hari jika diminta sang anak untuk menemani serta mengontrol kemajuan belajar? Berbeda dengan kursus lainnya (matematika, misalnya), kursus piano butuh latihan secara kontinyu setiap hari, bukan hanya di tempat kursus saja.

4. Apakah orang tua dapat memberikan dukungan moril?

Selain memberikan semangat untuk terus berlatih, dukungan orang tua dapat berupa kehadiran jika sang anak ikut resital. Dukungan moril lainnya dapat berupa memberi apresiasi kepada anak dengan mengajak nonton konser piano, baik secara langsung maupun lewat CD/DVD. Secara singkat, mampukah orang tua menciptakan lingkungan bermusik yang baik bagi anak. Untuk anak yang lebih kecil, dukungan moril berupakehadiran orang tua untuk ikut duduk dalam kelas menemani anak untuk belajar. Pada saat di rumah,  orang tua dapat meluangkan waktu untuk menemani anak berlatih.

B. Anak

Sebenarnya hanya satu pertanyaan penting yang harus dijawab dengan melihat minat anak, yaitu:

Apakah anak menunjukkan tanda-tanda menyukai musik dan piano pada khususnya?

Setiap anak unik dan berbeda. Ada anak yang gemar mencorat coret, sementara anak lain seusianya gemar menyusun benda-benda, sementara lainnya gemar bernyanyi, dan lain sebagainya. Jika anak menunjukkan minat kepada musik, maka mungkin saat yang tepat untuk mulai belajar musik.

Pertanyaan hanya perlu dijawab jika anak hendak mengikuti kursus musik dengan metode konvensional. Pertanyaan-pertanyaan tersebut antara lain:

1. Apakah anak sudah sanggup untuk memusatkan perhatian minimal selama 30 menit?

Pada umumnya, anak yang berusia dibawah 6 tahun cepat bosan. Jadi untuk dapat mengikuti pelajaran piano dengan baik, anak harus bisa berkonsentrasi pada pelajarannya. Namun pada metode non konvensional, guru biasanya melakukan banyak aktivitas pada saat kursus sehingga anak tidak akan cepat bosan. Jadi peran guru sangatlah penting agar anak tidak menjadi bosan sebelum jam pelajaran berakhir. 

2. Apakah fisiologi anak sudah memadai untuk instrumen piano?

Gurulah yg dapat menjawab pertanyaan ini. Pada umumnya guru akan melihat apakah kelima jari dapat diletakkan pada tuts, satu jari satu tuts tanpa susah payah.

3. Apakah anak sudah bisa membaca atau mengenal simbol?

Pada metode konvensional, murid belajar membaca notasi balok (bukan berarti membaca notasi balok tidak penting untuk metode non konvensional). Murid harus dapat mengerti simbol notasi balok dan menerjemahkannya menjadi bunyi. Anak yang mampu menerjemahkan simbol biasanya sudah bisa membaca atau perkembangan kognitifnya sudah sampai pada perkembangan opersional konkrit, menurut teori Piaget. Tahapan perkembangan kognitif ini terjadi pada sekitar umur tujuh tahun, oleh karena itu biasanya guru menerima murid piano pada usia 7 tahun atau setidaknya 6 tahun. 

Ketiga hal terakhir dapat diatasi dengan guru dan metode yang tepat. Untuk mendapatkan guru dan metode yang tepat adalah gampang gampang sulit karena harus disesuaikan dengan sang anak yang memiliki karakter yang berbeda-beda antara satu anak dengan lainnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar